Posted by: satungo | 17/07/2009

Kejari Biak Kian Intensif Memburu Koruptor

tagline Kejari Biak dalam Pemberantasan Korupsi

tagline Kejari Biak dalam Pemberantasan Korupsi

Ada tiga sebab yang diyakini menjadi faktor pendorong seseorang melakukan korupsi Pertama: adanya tekanan. Tekanan yang dimaksud adalah tekanan pada permasalahan keuangan dan rasa gengsi

Kedua: Ada kesempatan untuk melakukan. Sekecil apapun, jika ada peluang, koruptor pasti akan memanfaatkannya

Ketiga: Adanya pembenaran: pembenaran atau rasionalisasi yang dimaksud adalah pelaku tindak pidana korupsi akan menyumbangkan sebagian hasil kejahatannya ke rumah ibadah atau lembaga sosial.

Ketiga hal tersebut diungkapkan oleh Abraham Benediktus Sitinjak, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Biak, selaku narasumber yang dihadirkan untuk memberi wawasan dalam kegiatan Training of Facilitator Pengawasan Anggaran- yang dilakukan di Hotel Intsia, Biak ( 9 Desember 2008).

Beliau memang baru bertugas selama empat bulan di Biak, namun gebrakan yang telah dilakukannya patut diacungi jempol.

Dia begitu gigih mewacanakan anti korupsi  melalui spanduk, dialog interaktif di Radio, maupun press release di media massa. Dia tetap bersemangat mengabdi walaupun hanya dibantu oleh 9 orang jaksa, dari idealnya 35  orang jaksa, dalam sebuah kabupaten.

Di dalam  kegiatan ToF-Pengawasan anggaran, beliau menyampaikan  tema “ Peran Kejaksaan Negeri dan Stakeholder memberantas korupsi “

Hal penting yang disampaikannya adalah tentang payung hukum bagi masyarakat, jika ingin melakukan kegiatan investigasi.  Yaitu Pasal 41, UU 31,1999 tentang peran serta masyarakat dalam pemberantasan korupsi.

Direktur Rumsram- Isack Matarihi dan Kajari Biak-Abraham Benediktus Sitinjak

Direktur Rumsram- Isack Matarihi dan Kajari Biak-Abraham Benediktus Sitinjak

Menurut beliau, kegiatan semacam ToF ini sangat penting, apalagi momentnya bersamaan dengan hari peringatan anti korupsi. Dalam pandangannya, jika memungkinkan kegiatan training seperti ini bisa dikembangkan juga di Kabupaten terdekat, misal Kabupaten Supiori, supaya lebih banyak orang yang paham anggaran.

Kegiatan RDC Papua dan Watch Papua di Biak diharapkan bisa lebih mudah dilaksanakan, karena pada tanggal 9 Agustus 2008 yang lalu , telah ditanda-tangani nota kesepakatan tentang pengawasan anggaran, oleh Kejaksaan, Dewan Adat Biak, Polisi dan Wakil-wakil Agama****

Bukti dari ketegasan Kejari Biak dalam memberantas Korupsi ada dalam berita dibawah ini :

sumber: http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=36789:kejari-biak-ancam-jemput-paksa-tersangka-korupsi&catid=59:kriminal-a-hukum&Itemid=91

Kejari Biak ancam jemput paksa tersangka korupsi

BIAK  – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten BiaK Numfor, Papua mengancam menjemput paksa tersangka dugaan korupsi YK mantan Kepala Badan Pengendali Perencanaan Pembangunan Daerah (BP3D) Kabupaten Supiori jika tidak memenuhi panggilan ketiga, Kamis 16 Juli.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Biak, Abrahaman Sitinjak SH,MH mengatakan, YK telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi dana perjalanan dinas tahun anggaran 2007 sebesar Rp1 Miliar di BP3D Supiori.

“Surat panggilan ketiga Kejaksaan sudah dikirim kepada bersangkutan YK, ya kami minta tersangka kooperatif kepada penyidik dalam menuntaskan dugaan tindak pidana korupsi,” harap Kajari Sitinjak, menyikapi surat panggilan ketiga kepada tersangka YK mantan Kepala BP3 Supiori.

Dia mengatakan, kasus dugaan korupsi penyelewengan dana perjalanan dinas pejebat eselon II dan III di BP3D Supiori telah ditetapkan dua tersangka yakni YK dan AA sebagai bendahara.

Dari keterangan para saksi maupun tersangka lain AA, lanjut Sitinjak, pemeriksaan terhadap YK diharapkan dapat mengungkap tuntas dugaan tindak pidana korupsi di BP3D Supiori.

“Penyidik Kejaksaan sudah memeriksa saksi-saksi dan menemukan alat bukti yang cukup untuk menuntaskan kasus ini hingga ke pengadilan,” ungkap Kajari Sitinjak.

Menyinggung audit BPKP Papua, menurut Kajari Sitinjak, hingga saat ini pihak penyidik Kejari Biak belum menerima hasil audit investigative keuangan dugaan korupsi dana perjalanan dinas BP3 Supiori.

Alasan auditor BPKP Papua, lanjut Kajari, berdasarkan surat yang dikirim kepada Kejaksaan menyebutkan tersangka YK belum diperiksa sehingga hasil audit belum diserahkan kepada penyidik Kejaksaan.

“Kami harapkan auditor BPKP Papua segera memberikan hasil audit investigatif keuangan dana perjalanan dinas BP3D Supiori supaya kasus ini segera dilimpahkan ke Pengadlan untuk disidangkan,” harap Kajari Sitinjak.

Posted by: satungo | 17/07/2009

Evaluasi Program RDC Papua 2009

Program Resource Development Centre (RDC) di tiga wilayah / region di Papua dengan melibatkan tiga LSM anggota Foker Papua, yaitu Pt.PPMA (Jayapura), Forpammer (Merauke) dan Rumsram (Biak) dilaksanakan atas kerjasama antara SATUNAMA dan Foker LSM Papua dan mendapat dukungan dari Oxfam Australia untuk tahun kedua, 2008/2009 sudah dilaksanakan dengan berbagai kegiatan.

Kegiatan-kegiatan itu antara lain adalah : (1) Pembuatan modul Pengawasan anggaran, Kemudian dilanjutkan dengan (2) Lokakarya dengan Foker dan mitra untuk sosialisasi design program yang baru, membangun kesepakatan mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing, penyusunan rencana kerja dan identifikasi potensi calon fasilitator. Dilanjutkan dengan (3) Pelatihan untuk alumni pelatihan tahun pertama tentang Metodologi Fasilitasi dan upgrading tema Kesadaran Kritis dan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan, kemudian (4) Pra ToF Pengawasan anggaran untuk aktivis NGO Perempuan, (5) Pelatihan bagi aktivis LSM tentang Pengawasan Anggaran (6) Pelatihan ditingkat masyarakat untuk praktek fasilitasi modul Kesadaran Kritis, modul Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan, dan modul Pengawasan Anggaran (7)pertemuan dengan fasilitator-fasilitator local di Papua untuk membahas dan merefleksikan program yang telah berlangsung.

Untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan program RDC tahun kedua, maka perlu dilakukan evaluasi tahunan (annual evaluation). Kegiatan evaluasi bukanlah merupakan kegiatan yang luar biasa, karena monitoring dan evaluasi adalah bagian siklus pelaksanaan program yang memang harus dilakukan. Dalam pemahaman yang konvensional, evaluasi sering dipandang sebagai kegiatan yang lebih banyak memberikan “penghakiman” (judgment) terhadap berbagai aspek pengelolaan program, sehingga sering memberikan dampak yang cenderung menakutkan.

Dalam konteks pemberdayaan (empowering) seperti dalam konteks program RDC, evaluasi lebih merupakan proses refleksi untuk mendapatkan berbagai pelajaran (lessons learned) dalam proses pelaksanaan program dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi untuk pelaksanaan program selanjutnya.

Sudah tentu bahwa dalam evaluasi ini mencoba untuk melihat hasil-hasil yang sudah dicapai dalam tahun pertama ini. Untuk melaksanakan evaluasi dengan substansi semacam itu metode yang diyakini sangat sesuai adalah metode partisipatif. Tujuan evaluasi tahunan adalah ;

• Mengetahui hasil-hasil capaian program dalam tahun pertama, khususnya hasil-hasil jangka pendek (output) dan hasil-hasil jangka menengah (outcome)

• Mengetahui berbagai kendala / hambatan pelaksanaan program tahun pertama agar dapat dicarikan solusinya sehingga tidak akan terulang dalam program-program selanjutnya

• Merumuskan pembelajaran (lessons learned) dari pelaskanaan program tahun pertama

• Memberikan rekomendasi untuk pelaksanaan program tahun-tahun berikutnya Adapun jadwal evaluasi program RDC tahun kedua, adalah sebagai berikut :

Rabu , 22 Juli 2009  : Diskusi dengan SE Foker LSM FOKER LSM PAPUA

Kamis, 23 Juli 2009  ; Evaluasi di pt.PPMA Pt.PPMA – Jayapura

Jumat, 24 Juli 2009  : Evaluasi di FORPAMMER FORPAMMER / YASANTO- Mrq

Sabtu, 25 Juli 2009  : Lanjutan Evaluasi FORPAMMER / YASANTO-Mrq

Senin, 27 Juli 2009  : Evaluasi di Rumsram Rumsram – Biak

Posted by: satungo | 23/06/2009

Pertemuan Fasilitator Program RDC Papua

Markus Kajoi  Memfasilitasi kegiatan Pertemuan Fasilitator

Markus Kajoi Memfasilitasi kegiatan Pertemuan Fasilitator


Background
Umumnya yang terjadi, setelah program selesai maka “semuanya selesai”, keberlanjutan program menjadi agenda kedua bahkan terkadang sering tidak terpikirkan, sehingga dampak program menjadi kurang strategis.
.
Tujuan
1. Sharing informasi dan refleksi terhadap program RDC dari 3 wilayah : Biak, Jayapura dan Merauke dengan fasilitator-fasilitator senior ( Perempuan dan Laki-laki)
2. Menyepakati media komunikasi bagi Fasilitator alumni program RDC.
3. Menyusun agenda rutin fasilitator.

Hasil Yang Diharapkan

1. Adanya sharing informasi dari tiga wilayah program : Biak, Jayapura dan Merauke dengan fasilitator perempuan senior.
2. Adanya media komunikasi sebagai wadah bagi Fasilitator alumni program RDC untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
3. Tersusunnya sejumlah agenda rutin fasilitator alumni program RDC.
4. Adanya laporan rutin untuk mengupdate perkembangan fasilitator alumni program RDC.

Realisasi
Place : Guest House Uncen, Abepura- Jayapura
Date of Training : 15 -17 Juni 2009
Participants : Facilitator from 3 Location 19 Orang (P=17 ; L=2)
RDC Management 4 Orang ( P=3 :L=1)
Facilitator : Markus Kajoi – Konsultansi Independen Pemberdayaan Rakyat Papua (KIPRa)
Resource Persons : Fransisca Nuhuyanan

Hari pertama. Kegiatan bertepatan dengan pertandingan sepak bola antara tim Persipura dengan psms Medan. Kemenangan tim olahraga itu besar artinya bagi sebagian warga Papua. Kemenangan persipura mampu mengangkat derajat orang Papua di tengah pelaksanaan otonomi khusus yang carut marut .
Walaupun proses sedikit terganggu namun tidak sampai menghentikan kegiatan pertemuan fasilitator ini.

Proses pertemuan fasilitator ini difasilitasi oleh Markus Kajoi, Steering Committee Foker LSM. Dinamika kegiatan hari pertama berjalan datar,karena masing-masing peserta antar daerah belum saling kenal. calon fasilitator saling menceritakan tantangan yang dialami dalam praktek modul kesadaran kritis, modul pembangunan partisipatif dan modul. Tantangan utama yang muncul umumnya adalah dalam menerjemahkan bahasa dalam modul kedalam bahasa daerah setempat agar mudah dimengerti oleh peserta. Refleksi juga diberikan oleh RDC management dan masing-masing coordinator region, kecuali coordinator region teluk cendrawasih yang berhalangan hadir. Secara keseluruhan baik coordinator region maupun RDC Management menilai bahwa fasilitator telah mampu memfasilitasi, meskipun untuk kualitas masih perlu diasah.

Hari kedua, fasilitator perempuan senior dari Papua, diwakili oleh Fransisca Nuhuyanan dari Merauke. Beliau membagikan pengalamannya dalam advokasi anggaran. Pengalaman nyata yang dibagikan mampu menginspirasi calon fasilitator dari daerah Jayapura dan Biak. Sementara Markus Kajoi, ikut turut membagikan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh fasilitator dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang mengarah pada “purifikasi” peran fasilitator di tengah masyarakat. Diskusi menyimpulkan bahwa program, hendaknya tetap focus, tetapi tidak memaksa tetapi mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Selama proses terlihat bahwa peserta yang berasal dari kalangan LSM dengan program kerja lembaga yang tersusun baik dan jelas, lebih berpeluang untuk dapat mengitegrasikan program RDC ke dalam program lembaga. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan mereka dalam memberikan contoh-kasus yang terjadi dalam masyarakat. ( Jayapura dan Biak ).

Hari ketiga. Dinamika kegiatan kembali menurun akibat beberapa peserta jatuh sakit. Diskusi mengenai jaringan dimulai brainstorming mengenai jaringan, menggunakan media gambar. Dari gambar peserta diminta untuk menjelaskan pengertian jaringan menurut mereka. Setelah itu dilanjutkan dengan membangun kesepakatan tentang bagaimana jaringan ini akan dikelola dan menggunakan media apa. Beberapa usulan yang diberikan nampaknya agak sulit direalisasikan. Seperti misalnya peserta dari Merauke mengusulkan media email dalam mengelola jaringan, padahal selama ini kontak email tidak bisa langsung kepada fasilitator yang bersangkutan, tetapi harus melalui staf Yasanto. Beberapa hal yang belum sempat digali lebih dalam adalah, bagaimana jaringan yang berjuluk TIFA RDC ( Tim Fasilitator RDC) ini akan berhubungan dengan stakeholdernya.

Conclusion (Lessons learned)
Secara keseluruhan kegiatan pertemuan fasilitator ini berjalan dengan baik. Evaluasi dari peserta terhadap kemampuan fasilitator, materi dan akomodasi secara umum juga menunjukkan hasil baik. RDC Management menilai ada sedikit kegamangan calon fasilitator, pertemuan ini telah menyepakati beberapa hal, namun masih menyisakan pertanyaan strategis tentang program RDC di tahun ketiga ?

Posted by: satungo | 12/06/2009

Festival Danau Sentani

Festival Danau Sentani 2009

Festival Danau Sentani 2009

“Festival Budaya Danau Sentani merupakan kegiatan wisata budaya yang berbasis masyarakat. Even ini untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal dan menjadi daya tarik wisata yang pada akhirnya akan menyejahterakan masyarakat setempat,
==
Jakarta, Kabupaten Jayapura di Papua menyatakan siap dikunjungi ribuan wisatawan menyambut Festival Budaya Danau Sentani pada 19-23 Juni 2009. “Secara infrastruktur kami telah siap menyambut kedatangan wisatawan dalam acara tersebut,” kata Wakil Bupati Jayapura Zadrak Wamebu, di Jakarta, Selasa (2/6).

Menurut Wamebu, pihaknya menggandeng banyak pemangku kepentingan, termasuk Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam menggelar Festival Budaya Danau Sentani 2009. Gelaran kali ini adalah yang kedua, dan rencananya akan dijadikan agenda rutin tahunan.

Festival itu bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat setempat sekaligus merekatkan rasa persatuan dan kesatuan di antara kampung adat (ondoafi). “Acara ini juga bertujuan untuk menjadikan atraksi dan daya tarik dalam kegiatan kepariwisataan yang pada akhirnya akan mendatangkan kesejahteraan masyarakat,” katanya. Terlebih Jayapura sebelumnya telah didengungkan sebagai kota budaya dan pariwisata.

Festival Budaya Danau Sentani 2009 akan menampilkan tiga acara utama, yakni menari di atas perahu yang diikuti sekitar 1.040 peserta dari 26 kampung adat, berperang di atas perahu diikuti 600 peserta dari 20 ondoafi, dan parade di atas perahu dan di darat serta upacara sakral masyarakat Sentani.

Sebanyak 24 ondoafi dari sekeliling Danau Sentani, 19 distrik dan ondoafi Kabupaten Jayapura dan 10 kabupaten dari Provinsi Papu, serta organisasi kebudayaan kerukunan etnis yang ada di Papua turut ambil bagian dalam festival itu.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, Festival Budaya Danau Sentani selain menjadi wahana dalam melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat setempat juga telah menjadi atraksi wisata budaya yang menarik bagi wisatawan untuk datang ke Provinsi Papua.

“Festival Budaya Danau Sentani merupakan kegiatan wisata budaya yang berbasis masyarakat. Even ini untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal dan menjadi daya tarik wisata yang pada akhirnya akan menyejahterakan masyarakat setempat,” katanya.

Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, mengatakan, pihaknya telah memfasilitasi festival tahunan tersebut melalui promosi dalam even pariwisata tingkat internasional seperti di Pata Mart dan ITB Berlin, Jerman.

“Tahun ini kita promosikan dalam even Gebyar Wisata Nusantara sekaligus untuk mendorong program Kenali Negerimu Cintai Negerimu,” katanya.

Selama ini kawasan wisata Danau Sentani menjadi salah satu prioritas pengembangan kawasan wisata unggulan Kabupaten Jayapura dengan menonjolkan air dan lingkungan hidup sebagai obyek utamanya. Danau itu terletak di Kota Sentani yang menjadi ibukota Kabupaten Jayapura.

Kota Sentani didukung fasilitas bandara Sentara yang dihadapkan mampu mendorong pertumbuhan pariwisata di Papua sekaligus menjadi pintu gerbang “distribution point” bagi wisatawan yang akan menuju wilayah lain di Papua.

Saat ini delapan jadwal kedatangan pesawat ke Sentani dengan load factor mencapai 85 persen diperkirakan 1.000 orang visitor per hari mampir ke kota itu. “Angka itu menjadi bukti nyata bahwa Kabupaten Jayapura sudah pantas dipertimbangkan menjadi salah satu daerah tujuan utama wisata di Indonesia,” demikian Zadrak Wamebu berpendapat.

Pemerintah Kabupaten Jayapura sendiri mengaku telah menciptakan tiga destinasi wisata baru, yaitu Kampung Wisata Tablanusu, Bukisi Beach & River Tour, dan Greminawa Memorial Tour & Pasangrahan Belanda Tempo Doeloe.

Posted by: satungo | 11/06/2009

Pertemuan Fasilitator

Kerangka Acuan
PERTEMUAN FASILITATOR

Latar Belakang

Program Resource Development Centre (RDC) merupakan kerjasama Satunama dan Foker LSM Papua yang akan memasuki penghujung tahun ke II. Program ini dimaksudkan untuk Peningkatan dan Pengembangan Kapasitas (Capacity Building) Partisipan/Mitra Foker LSM Papua dalam mencetak dan mengembangkan fasilitator lokal untuk Pendidikan Kemasyarakat yang Partisipatif.

Program RDC tahun I telah berjalan sejak September 2007, yang diawali dengan Assessment di 3 wilayah, yaitu Jayapura, Biak dan Merauke. Kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi hasil assessment dan pembuatan kerangka modul : Modul Pendidikan Kritis, Modul Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan dan Modul Pengawasan Anggaran. Modul-modul ini kemudian disempurnakan berdasarkan masukan-masukan dari 3 wilayah. Kegiatan berikutnya adalah berbagai pelatihan dalam rangka penguatan kapasitas dan capacity building management yang diikuti oleh Foker LSM Papua dan Mitra (Yayasan Rumsram, Forpammer dan pt. PPMA).

Program RDC tahun II diawali dengan Workshop Sosialisasi Desain Program RDC dan Identifikasi Calon Fasilitator. Workshop ini disertai juga evaluasi untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan antara Satunama, Foker LSM Papua dan Mitra dalam menjalankan program ini. Kesepakatan-kesepakatan yang dicapai antara lain : tema RDC tahun II adalah Pengawasan Anggaran, waktu pelaksanaan kegiatan, pelaporan (narasi dan keuangan), PO Satunama adalah Isack Matarihi dari Yayasan Rumsram dan kriteria peserta yang akan terlibat dalam kegiatan. Kegiatan berikutnya adalah Pelatihan bagi Alumni Program RDC tahun I, Pra ToF Pengawasan Anggaran (dikhususkan untuk perempuan) dan ToF Pengawasan Anggaran, serta tiga kali praktek fasilitasi oleh calon fasilitator dengan mengacu pada modul yang telah dibuat.

Dari proses program RDC yang telah berjalan hingga penghujung tahun ke II, penguatan kapasitas yang dilakukan atas kerjasama Foker LSM Papua, Satunama dan Mitra dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan pengetahuan/wawasan dan keterampilan peserta sebagai calon fasilitator lokal yang handal, walaupun keberhasilan ini bukan semata-mata karena kerjasama tersebut, tetapi salah satunya karena seringnya peserta terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Foker LSM Papua beserta jaringan, LSM lain, pemerintah dan lain-lain, juga turut berperan dalam memantapkan penguatan kapasitas dimaksud.

Pada umumnya yang banyak terjadi saat ini adalah setelah program selesai maka “semuanya selesai”, jarang bahkan tidak ada keberlanjutan, sehingga dampak yang ditimbulkan pun tidak terlalu nampak. Untuk meminimalisir atau menghilangkan image itu, maka perlu dirancang keberlanjutan dari program RDC ini.

Pertemuan fasilitator merupakan rangkaian kegiatan tindak lanjut dari kegiatan Program RDC yang telah disepakati bersama. Hal ini menjadi penting agar apa yang telah dirintis selama kurang lebih dua tahun tidak sia-sia. Calon-calon fasilitator yang telah siap menjadi fasilitator perlu diberikan penguatan agar lebih percaya diri, lebih mengembangkan dan meningkatkan kemampuan yang telah dimiliki, khususnya fasilitator perempuan. Mengingat selama ini fasilitator perempuan minim keberadaannya, juga saat program RDC berjalan, gampang-gampang susah untuk melibatkan mereka karena sejumlah agenda lembaga dan moment yang kurang tepat. Oleh karena itu pertemuan ini dirasa penting untuk melakukan sharing, refleksi, menyepakati sejumlah hal agar apa yang sudah berjalan saat ini dapat terus dilanjutkan, dan juga penting “memprioritaskan” kehadiran calon fasilitator perempuan.

Tujuan Pertemuan Fasilitator

1. Sharing informasi dan refleksi terhadap program RDC dari 3 wilayah : Biak, Jayapura dan Merauke dengan fasilitator-fasilitator senior ( Perempuan dan Laki-laki)
2. Menyepakati media komunikasi bagi Fasilitator alumni program RDC.
3. Menyusun agenda rutin fasilitator.

Hasil Yang Diharapkan

1. Adanya sharing informasi dari 3 wilayah : Biak, Jayapura dan Merauke dengan fasilitator perempuan senior.
2. Adanya media komunikasi sebagai wadah bagi Fasilitator alumni program RDC untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
3. Tersusunnya sejumlah agenda rutin fasilitator alumni program RDC.
4. Adanya laporan rutin untuk mengupdate perkembangan fasilitator alumni program RDC.

Peserta

Peserta Pertemuan Fasilitator berjumlah 25 orang yang berasal dari 3 wilayah, yaitu :
- Biak 5 orang : Isack Matarihi + 4 Calon Fasilitator
- Jayapura 10 orang : Yohana Mandowen + 9 Calon Fasilitator
- Merauke 5 orang : Sisca Nuhuyanan/Jago Bukit + 4 Calon Fasilitator
- RDC Management 5 orang (Sekretariat Foker LSM Papua + Satunama Yogyakarta)
Dengan keterlibatan peserta perempuan dari masing-masing daerah 40%.

Kriteria Peserta

Peserta Pertemuan Fasilitator sebaiknya :
1. Memiliki komitmen dan kemauan untuk belajar dan terus mengembangkan diri sebagai fasilitator.
2. Alumni program RDC yang pernah melakukan praktek fasilitasi modul (diutamakan perempuan).

Metode

- Ceramah
- Sharing
- Diskusi Kelompok & Presentasi

Fasilitator

Pertemuan Fasilitator difasilitasi oleh : Markus Kajoi (KIPRa Papua) – dalam konfirmasi

Pelaksanaan

Hari/tanggal : Senin – Rabu, 15 – 17 Juni 2009
Jam : 09.00 WIT – selesai
Tempat : Guest House Uncen – Abepura, Jayapura

Tim Kerja
Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama FOKER LSM Papua – SATUNAMA Yogyakarta, dengan Tim Kerja sebagai berikut :
Penanggungjawab : J. Septer Manufandu (SE Foker LSM Papua)
Pelaksana : Yayak Masfiah
I Gede Edy Purwaka
Paulina Mariawasi

——————————-

JADWAL TENTATIF PERTEMUAN FASILITATOR
15 – 17 Juni 2009

Hari/Tanggal Waktu Uraian Penanggungjawab
Senin, 15 Juni 2009
09.00 – 09.30 Registrasi Panitia
09.30 – 10.00 Pembukaan Panitia
10.00 – 10.15 Snack Panitia
10.15 – 12.30 Perkenalan
Harapan & Kekhawatiran
Kontrak Belajar Fasilitator
12.30 – 13.30 Makan Siang Panitia
13.30 – 15.30 Sharing Pengalaman oleh Calon Fasilitator Fasilitator
15.30 – 15.45 Snack Sore Panitia
15.45 – 17.30 Refleksi Program Fasilitator
17.30 Istirahat
Selasa, 16 Juni 2009
09.00 – 10.00 Sharing Fasilitator Senior Fasilitator
10.00 – 10.15 Snack Panitia
10,15 – 11.00 Lanjut Sharing Fasilitator Fasilitator
11.00 – 12.30 Diskusi & Tanyajawab Fasilitator
12.30 – 13.30 Makan Siang Panitia
13.30 – 15.30 Sharing Jaringan & Hambatan Fasilitator
15.30 – 15.45 Snack Panitia
15.45 – 17.30 Sharing Jaringan & Hambatan
Rabu, 17 Juni 2009
09.00 – 10.00 Membangun Jaringan Fasilitator
10.00 – 10.15 Snack Panitia
10.15 – 12.30 Membangun Jaringan Fasilitator
12.30 – 13.30 Makan Siang Panitia
13.30 – 15.30 Pengembangan Fasilitator Fasilitator
15.30 – 15.45 Snack Panitia
15.45 – 17.30 Rekomendasi
Penutupan Fasilitator
Panitia

INFORMASI LOGISTIK

Pertemuan Fasilitator, Senin – Rabu, 15 – 17 Juni 2009 di Guest House Uncen – Abepura, Jayapura

1. Transportasi

- Transportasi Antar Kota. Peserta memesan sendiri tiket pesawat ekonomi PP, yang kemudian akan direimburse Panitia.
- Peserta diharuskan membawa bukti tiket pesawat asli, boarding pass serta airport tax, dan harap diberikan kepada Panitia saat acara berlangsung.
- Transportasi Dalam Kota : Merauke & Biak. Panitia akan mengganti biaya transport dari kota asal ke tempat kegiatan dan sebaliknya, sebesar Rp. 300.000,- dan mendapat transport lokal.
- Transportasi Peserta Jayapura. Panitia akan mengganti biaya transport lokal peserta.

2. Akomodasi

- Panitia menanggung akomodasi Peserta dari Merauke dan Biak.
- Panitia menanggung akomodasi Peserta sejak Minggu, 14 Juni 2009 sampai Kamis, 18 Juni 2009.
- Check in di penginapan, Minggu : 14 Juni 2009, jam 13.00 WP.
- Check out dari penginapan, Kamis : 18 Juni 2009, sebelum jam 12.00 WP.

3. Konsumsi

- Panitia menanggung konsumsi peserta sejak Minggu malam (makan malam) sampai Kamis Pagi (makan pagi), 14 – 18 Juni 2009.
- Panitia tidak menanggung makan peserta selain yang telah dijadwalkan.
- Jadwal makan sebagai berikut :

Jadwal Makan Jam
Sarapan Pagi 07.00 – 08.00
Snack Pagi 10.00 – 10.15
Makan Siang 12.30 – 13.30
Snack Sore 15.30 – 15.45
Makan Malam 18.30 – 20.00

4. Telepon, Laundry, dll

- Panitia tidak menanggung biaya telpon pribadi, laundry, rokok, dll yang digunakan peserta.
- Informasi lain yang berkaitan dengan logistik selama kegiatan berlangsung dapat menghubungi saudari Paulina Mariawasi – Sekretariat FOKER LSM PAPUA, Telp (0967) 573511.

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.