Posted by: satungo | 23/06/2009

Pertemuan Fasilitator Program RDC Papua

Markus Kajoi  Memfasilitasi kegiatan Pertemuan Fasilitator

Markus Kajoi Memfasilitasi kegiatan Pertemuan Fasilitator


Background
Umumnya yang terjadi, setelah program selesai maka “semuanya selesai”, keberlanjutan program menjadi agenda kedua bahkan terkadang sering tidak terpikirkan, sehingga dampak program menjadi kurang strategis.
.
Tujuan
1. Sharing informasi dan refleksi terhadap program RDC dari 3 wilayah : Biak, Jayapura dan Merauke dengan fasilitator-fasilitator senior ( Perempuan dan Laki-laki)
2. Menyepakati media komunikasi bagi Fasilitator alumni program RDC.
3. Menyusun agenda rutin fasilitator.

Hasil Yang Diharapkan

1. Adanya sharing informasi dari tiga wilayah program : Biak, Jayapura dan Merauke dengan fasilitator perempuan senior.
2. Adanya media komunikasi sebagai wadah bagi Fasilitator alumni program RDC untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.
3. Tersusunnya sejumlah agenda rutin fasilitator alumni program RDC.
4. Adanya laporan rutin untuk mengupdate perkembangan fasilitator alumni program RDC.

Realisasi
Place : Guest House Uncen, Abepura- Jayapura
Date of Training : 15 -17 Juni 2009
Participants : Facilitator from 3 Location 19 Orang (P=17 ; L=2)
RDC Management 4 Orang ( P=3 :L=1)
Facilitator : Markus Kajoi – Konsultansi Independen Pemberdayaan Rakyat Papua (KIPRa)
Resource Persons : Fransisca Nuhuyanan

Hari pertama. Kegiatan bertepatan dengan pertandingan sepak bola antara tim Persipura dengan psms Medan. Kemenangan tim olahraga itu besar artinya bagi sebagian warga Papua. Kemenangan persipura mampu mengangkat derajat orang Papua di tengah pelaksanaan otonomi khusus yang carut marut .
Walaupun proses sedikit terganggu namun tidak sampai menghentikan kegiatan pertemuan fasilitator ini.

Proses pertemuan fasilitator ini difasilitasi oleh Markus Kajoi, Steering Committee Foker LSM. Dinamika kegiatan hari pertama berjalan datar,karena masing-masing peserta antar daerah belum saling kenal. calon fasilitator saling menceritakan tantangan yang dialami dalam praktek modul kesadaran kritis, modul pembangunan partisipatif dan modul. Tantangan utama yang muncul umumnya adalah dalam menerjemahkan bahasa dalam modul kedalam bahasa daerah setempat agar mudah dimengerti oleh peserta. Refleksi juga diberikan oleh RDC management dan masing-masing coordinator region, kecuali coordinator region teluk cendrawasih yang berhalangan hadir. Secara keseluruhan baik coordinator region maupun RDC Management menilai bahwa fasilitator telah mampu memfasilitasi, meskipun untuk kualitas masih perlu diasah.

Hari kedua, fasilitator perempuan senior dari Papua, diwakili oleh Fransisca Nuhuyanan dari Merauke. Beliau membagikan pengalamannya dalam advokasi anggaran. Pengalaman nyata yang dibagikan mampu menginspirasi calon fasilitator dari daerah Jayapura dan Biak. Sementara Markus Kajoi, ikut turut membagikan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh fasilitator dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang mengarah pada “purifikasi” peran fasilitator di tengah masyarakat. Diskusi menyimpulkan bahwa program, hendaknya tetap focus, tetapi tidak memaksa tetapi mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Selama proses terlihat bahwa peserta yang berasal dari kalangan LSM dengan program kerja lembaga yang tersusun baik dan jelas, lebih berpeluang untuk dapat mengitegrasikan program RDC ke dalam program lembaga. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan mereka dalam memberikan contoh-kasus yang terjadi dalam masyarakat. ( Jayapura dan Biak ).

Hari ketiga. Dinamika kegiatan kembali menurun akibat beberapa peserta jatuh sakit. Diskusi mengenai jaringan dimulai brainstorming mengenai jaringan, menggunakan media gambar. Dari gambar peserta diminta untuk menjelaskan pengertian jaringan menurut mereka. Setelah itu dilanjutkan dengan membangun kesepakatan tentang bagaimana jaringan ini akan dikelola dan menggunakan media apa. Beberapa usulan yang diberikan nampaknya agak sulit direalisasikan. Seperti misalnya peserta dari Merauke mengusulkan media email dalam mengelola jaringan, padahal selama ini kontak email tidak bisa langsung kepada fasilitator yang bersangkutan, tetapi harus melalui staf Yasanto. Beberapa hal yang belum sempat digali lebih dalam adalah, bagaimana jaringan yang berjuluk TIFA RDC ( Tim Fasilitator RDC) ini akan berhubungan dengan stakeholdernya.

Conclusion (Lessons learned)
Secara keseluruhan kegiatan pertemuan fasilitator ini berjalan dengan baik. Evaluasi dari peserta terhadap kemampuan fasilitator, materi dan akomodasi secara umum juga menunjukkan hasil baik. RDC Management menilai ada sedikit kegamangan calon fasilitator, pertemuan ini telah menyepakati beberapa hal, namun masih menyisakan pertanyaan strategis tentang program RDC di tahun ketiga ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.